Minggu, 29 Juni 2014

Konsisten?

Maju menyerang, bertahan atau bahkan diam dengan apa yang terjadi. Kehidupan seperti cerita dengan alur uniknya. Satu masa ke masa berikutnya, suatu keadaan ke keadaan berikutnya serta apa yang dipelajari dari satu hal ke hal yang lain membuat manusia terlihat tidak konsisten.
Konsisten adalah tetap, ajek, serta selaras ucapan dengan perbuatan. Itulah makna dari apa yang sering dilontarkan kebanyakan orang.  Seakan konsisten menjadi sebuah keharusan. Saya sering bingung dengan apa yang mereka maksudkan dengan konsep konsisten. Apakah mereka paham atau tidak dengan makna konsisiten.
Konsep belajar mengharuskan kita mengkaji ulang pemahaman mengenai konsep konsisiten. Sering kali telinga tercekoki slogan “konsisten dong!”, saya menganggap ini omong kosong para pendogma yang menyesatkan tanpa bertanggung jawab. Pemahaman yang sering membuat manusia dengan mudahnya menghakimi suatu kepribadian.
Pikirkan..!
Bisa saja hari ini kita menyukai topik atau hal tertentu, bisa juga esok kita membencinya. Semua orang pasti melakukannya.
Lalu
apakah semua orang tidak konsisten?
Hidup itu dinamis, bergerak dari satu kondisi ke kondisi yang lain. Belajar pun demikian, menuntut kita ke tingkat yang berbeda. Belajar bukan sebatas institusi pendidikan semata, belajar sesungguhnya adalah selama kita masih hidup di dunia. Nalar manusia membuat sesuatu terus berubah, tidak tetap pada suatu keadaan.
Tengok saja negara ini yang dulu berideologi nasionalis sosialis tapi sekarang berubah cenderung liberal, tengoklah china yang dulu membenci kapitalisme namun sekarang berekonomi kapitalistik. Apakah Indonesia dan china tidak konsisten?
Kedangkalan berpikir menyebabkan kekacauan saat menyimpulkan. Ketika kebanyakan mayoritas orang menggunakan istilah konsisten donk! Maka dengan mudah individu mengiyakan. Padahal akan lain cerita bila hal tersebut dikaji terlebih dahulu.

Menggunakan istilah konsisten dong! Untuk ditujukan kepada setiap individu saya pikir kurang pantas Karena, dapat mengesampingkan sisi dinamis manusia sebagai mahluk pembelajar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar